Jumat, 28 Desember 2012

Meninggalkan Plaza de Mulas 4.389 mdpl

      

Plaza  de Mulas

      Jam tanganku menunjukkan pukul 05.30, "Ku ingin buang air kecil namun harus kemana?", bisikku lirih pada diri sendiri. Ya..... aku pipis di sebelah klinik medis tempatku menginap semalam. Lega rasanya sudah bisa pipis meskipun dinginnya angin serasa menggigit jemari kaki dan tangan. Segera ku kembali ke ranjang (bad tebal yang diletakkan di lantai klinik) lalu mengamati suasana ruangan yang masih sunyi senyap karena belum ada yang bangun. Gebi yang sengaja tidur di ruangan tersebut untuk menemani dan memantau kesehatanku pun hanya terbangun sejenak untuk menyapaku, "Are you Ok?". "Yes, I'm fine", jawabku. Ku ambil catatan keuangan dalam daypackku dan menghitung jumlah uang yang ada padaku. Tidak lama kemudian Ari disusul Ibnu datang ke klinik sebagaimana pesanku pada mereka semalam. Pagi ini kuserahkan untuk untuk keperluan selama pendakian serta sejumlah uang untuk keperluan mereka saat tiba di Mendoza. Kuputuskan untuk menyerahkan uang dalam bentuk pesos kepada Ibnu serta uang dalam dalam bentuk dolar kepada Ari. selanjutnya kami menunggu kedatangan  helicoopter yang kabarnya akan mengevakuasiku pada pukul 07.00. Helicoopter tiba di Plaza de Mulas pada pukul 07.10 dan baru membawaku turun ke Horocones pada pukul 09.30. Untuk pertama dan terakhir kalinya pada hari itu, aku berfoto di basecamp Plaza de Mulas 4.389 mdpl dengan background Mt.Aconcagua 6.962 mdpl yang megah. Sesaat sebelum naik helicoopter, dokter mencoba memeriksa denyut nadi, saturasi O2, dan keadaan paru-paruku dengan meletakkan stetoscope di dada dan berpindah ke punggungku. Ku turut melihat hasil saturasi O2 yaitu 85% dengan denyut nadi yang lumayan cepat yaitu 110 per-menit. "Now, more fluid in your lungs", ungkapnya. Dokter menitipkan secarik kertas bertuliskan kalimat Spanyol untuk diberikan kepada dokter yang memeriksaku saat nanti di Mendoza. Gebi juga turut memberikan nomor handphone temannya kepadaku agar aku dapat meminta bantuan jika membutuhkan sesuatu.



     
      Salam perpisahan kuberikan kepada Ari, Ibnu, Gebi serta seluruh orang yang sengaja berada disitu untuk mengantar kepergianku. "Ri, Ib, Aku yakin kalian bisa nyampek puncak dan ngibari bendera kita. Kalian harus belajar dari apa yang aku alami", pesanku pada Ari dan Ibnu. Lambaian tanganku dan tangan mereka semakin lama semakin tak terlihat seiring bentangan jarak terbang helicoopter yang semakin terbang menjauhi mereka. Ribuan rasa berkecamuk di hatiku. Marah, menyesal, khawatir, bingung...... semua membaur jadi satu namun ku tak dapat menangis. Saat perjalanan evakuasi, kusempatkan untuk mengambil video jalur pendakian serta bukit-bukit sekitar menggunakan handphone yang kubawa. Indah, terlihat begitu indah dan menjadi semakin indah saat aku melihat pemandangan pegunungan ini sekarang, disaat aku akan kehilangan suasana di gunung ini.


Puente del Inca


Gudang/toko milik Aymara


     Usai beberapa menit menunggu kendaraan dari pihak Aymara (agent pendakian) untuk transfer dari pos perijinan Horocones akhirnya ku tiba di gudang/toko miliki Aymara di Puente del Inca. Gabriel, orang Aymara yang bertugas di Puente del Inca memberitahu bahwa aku akan dicarikan kendaraan untuk turun ke Mendoza pada pukul 12.00. Namun berjam-jam menunggu, kendaraan yang dimaksud belum juga ada. Ya, mungkin karena saat ini ada wanita asal Barcelona yang ingin menuju Mndoza juga. Wanita tersebut, christin, diharuskan turun dari Plaza de Mulas sehari sebelum aku turun karena dia menderita pulmonary edema dan celebral edema sekaligus. Gabriel mengkonfirmasi padaku bahwa Christin ingin menuju Mendoza bersamaku  agar uang yang dibayarkan bisa lebih murah karena kami dapat patungan dalam menyewa mobil serta sopir, namun Christin masih harus menunggu barang dalam duffle bagnya datang 5 jam lagi dengan diangkut oleh mulas. Pada saat ini, perutku terasa sangat lapar lalu ku memilih berkeliling di sekitar gudang dan membeli satu es krim, 600 ml air putih, dan satu hotdog untuk mengisi perutku yang kosong sejak kemarin pagi.
      Waktu telah menunjukkan pukul 17.00 maka melajulah  mobil kami menuju Mendoza. Selama dalam  mobil, ku putuskan untuk diam dan memejamkan mata karena Christin mengobrol dengan sopir tanpa henti-hentinya dengan menggunakan bahasa Spanyol yang tidak dapat kumengerti. Namun demikian, ku tetap tidak dapat tidur karena Christin berbicara dengan nada yang tinggi. Aeropuerto San Juan, kami sampai di bandara San Juan untuk menurunkan Christin terlebih dulu sebelum lanjut ke hotel. "Por favor, esta U$S 274 y ARS $ 5", ucapku pada sopir saat tiba di depan hotel NH Cordillera sambil menyodorkan uang 274 dolar dan 5 pesos. Karena kutak memiliki 1 dolar maka beri ganti 5 pesos pada sopir tersebut. "Si, gracias!", balasnya dengan reaksi sangat bahagia (kenapakalobayarmustipakedolargakbolehpakepesos_curiga.com).  Sempat merasa kesal karena pihak Aymara sebelumnya tidak pernah menunjukkan daftar harga transportasi secara detail apabila terdapat pendaki yang tidak dapat melanjutkan ekspedisi bersama anggota tim yang lainnya. "It's Ok! paling ndang ku ada pengalaman yang bisa dibagi ke pendaki-pendaki selanjutnya yang berencana kemari"', ucapku dalam hati.
      Begitu sampai di hotel, segera kulepas sepatu, cuci muka serta kaki serta meminjam stop contact pada resepsionis hotel untuk memasang charger pada Ipad dan handphone sebelum ku pergi mencari makan malam. Kususuri jalan dan masuk ke dalam Carrefour untuk membeli 6 liter air sekaligus mengingat jika membeli air di tempat lain maka harganya lebih mahal. Kulanjut berjalan hingga menemukan daftar harga makanan berupa pasta lalu aku masuk ke sebuah restoran untuk memesan satu porsi pasta/spageti dengan saus tomat untuk dibawa pulang ke hotel. Wow! begitu amat sangat lama sekali aku mendapatkan pastakuuuuu.... satu jam menunggu dan pastaku baru jadi. Ku melangkah kembali ke hotel dan mencoba memakan pasta tersebut di dalam kamar dan.... HUWEK!, ternyata aku sulit memasukkan makanan ke mulut karena masih mual, pahadal aku sangat lapar. :( Sama halnya denga percobaanku dalam memakan hotdog tadi siang di Puente del Inca, rasanya sangat sulit untuk menelan makanan. Meskipun sulit namun kupaksakan untuk menelan 8 sendok dan ku akhiri dengan meminum air putih. Selanjutnya kumatikan Ipad yang sempat ku pergunakan untuk conect internet serta mematikan semua cahaya lampu dalam kamar dan mencoba untuk tidur.
"Ya Alloh, ku ingin segera bersuci esok pagi karena ku telah usai datang bulan di gunungMU. Alhamdulillah untuk hari ini, meskipun ku tak tahu rencanaMu", ucapku dalam batin.


Kamis, 27 Desember 2012

Pulmonary Edema Menghentikan Langkahku

Confluencia 3.432 mdpl

     Alarm handphone berbunyi di dalam tenda untuk membangunkan aku, Ari, dan Ibnu. Pagi ini merupakan pagi terakhir kami di Confluencia karena kami akan melanjutkan pendakian menuju Plaza de Mulas. Usai membuka mata, ku segera menuju toilet untuk buang air kecil sebelum banyak orang antri disana. Saat kembali ke tenda, kubertanya kepada Ari dan Ibnu, “ Gimana kondisi kalian, apa masih pusing? Ada keluhan sakit ndag?”. “enggak mbag, kita udah enggak pusing”, jawab Ari. “Kalo gitu segera packing dan kita bongkar tenda terus lanjut ke tenda makan ya rek!”, tambahku. Semua sudah memakai kostum jalan dan barang-barang serta tenda telah terpacking dan siap untuk diangkut mulas. Guide,Gebi, datang dan bertanya,” is all ready?”, “Yes”, jawab kami. “Ok, now you can put it close to the mulas and then you have breakfast”, tambah Gebi.
    Kami memindahkan duffle bag ke dekat mulas kemudian menuju tenda makan. Kami sarapan apa adanya yang ada di tenda makan dengan tambahan telur dadar yang dibuat oleh juru masak,Lorena. Ari dan Ibnu lahap menyantap makanan namun entah mengapa pagi ini aku sangat tidak berselera lebih dari biasanya. Saat ku mencoba menelan makanan atau meminum air, ku pasti ingin muntah. “Aku biasanya pipis 2 liter dalam semalam karena ku banyak minum rek. Tapi semalam aku ndag bangun sama sekali untuk pipis dan 2 liter air yang sudah kusiapkan pun masih utuh rek”, ungkapku pada Ari dan Ibnu. Jam telah menunjukkan pukul 08.26 dan Gebi berseru bahwa kami akan melanjutkan pendakian sekarang. Langkahku menuju tenda dapur terlebih dahulu untuk berpamitan pada seluruh juru masak yang ada disitu, sekaligus memberikan sedikit uang tips kepada Lorena.


      Cuaca pagi ini sangat cerah dengan sedikit angin disepanjang perjalanan. Sejak awal perjalanan kumerasa ada yang tidak beres dengan tubuhku. Kuberjalan lambat hingga aku meminta Ari membawa laptop yang kupacking dalam daypackku. Bebanku sudah berkurang namun jalanku tetap lambat dan semakin melambat, berkali-kali langkahku terhenti karena merasa begitu lelah. "Ya Alloh, ada apa denganku? kemarin ndag kayak gini, kemarin bisa jalan cepat", gumamku cemas karena mulai merasa berat menyelaraskan langkah dengan anggota tim. "Are you Ok?", tanya Gebi. "Yes, I am Ok. Just....little bit tired", jawabku. "Mungkin gara-gara tadi cuma sarapan cereal kali ya?", tanyaku dalam hati. Terik matahari mengiringi langkah kami dalam menyusuri jalur pendakian yang berbatu,berpasir, dan sangat panjang ini.  
     Selama dua jam perjalanan, aku berjalan pelan tidak seperti biasanya, bahkan selalu tertinggal jauh di belakang (urutan dari depan saat berjalan yaitu Gebi, Ari, aku, dan Ibnu). Akhirnya Gebi menerapkan metode berjalan lamban namun tetap saja aku ketinggalan. Hingga pada saat makan siang sekitar pukul 13.00, makanan yg kami dapat dari Aymara pun tidak mampu kuhabiskan. Usai makan siang, kami melanjutkan perjalanan. Saat perjalanan, aku sering berhenti sehingga Gebi pun sering bertanya tenntang keadaanku. Dia memintaku bercerita tentang mengapa kondisiku bisa seperti ini. Aku menceritakan bahwa aku sejak semalam hingga saat ini hanya mampu meminum setengah liter air dan mungkin juga saat ini aku masuk angin karena aku merasa sangat mual namun tidak pusing. Kemudian Gebi menyuruhku untuk minum saat ini juga. Aku merasa mual namun Gebi tetap menyuruh minum banyak hingga akhirnya aku muntah air. Setelah muntah, aku mampu memasukkan makanan serta air ke mulut namun sangat sedikit. Tim melanjutkan perjalanan kembali dan posisiku pun semakin jauh di belakang hingga aku sempat hilang dari pandangan mata mereka. Gebi, Ari, Ibnu menunggu kedatanganku. Kudatang dengan perasaan dan sikap lemas yang dapat tim ketahui tanpa aku harus bilang. Pada akhirnya, bebanku pun di bagi menjadi tiga untuk di bawakan oleh Ibnu, Ari dan Gebi. Namun tetap saja badanku merasa lemas. Aku berjalan sangat pelan dan sering berhenti untuk menarik nafas. Kebetulan ada teman Gebi yang menyalip dari belakang, Gebi pun meminta tolong pada mereka untuk menemani Ari dan Ibnu menuju Plasa de mulas. Tim terpisah menjadi dua, Ari dan Ibnu berjalan bersama Julian (temannya Gebi) sedangkan aku di dampingi oleh gebi. Ari dan ibnu tiba di plasa de mulas pukul 19.30. Mereka pun menunggu kedatanganku di tenda makan sekaligus membangun tenda. 
      Setelah trekking 17 km dalam waktu hampir 13 jam, aku bersama Gebi tiba di plaza de Mulas pukul 21.00 dan langsung diperiksa oleh dokter di klinik Plaza de Mulas.  Mereka mengecek denyut nadiku, saturasi O2 serta keadaan paru-paruku. Ya, aku hanya mampu bernafas pendek saat berjalan karena saturasi O2ku saat ini hanya 65% dengan denyut nadi yang cepat yaitu 120 per-menit, kumelihat dari alat periksa yang mereka pasangkan ke jari telunjukku. Yang benar-benar kabar buruk bagiku, saat ini dokter menyatakan bahwa paru-paruku terisi cairan, "There are any fluid in your lungs". Aku tidak mampu berkata-kata....... "lalu apa selanjutnya? apa aku tidak boleh menambah ketinggian? apa aku harus turun? apa aku hanya boleh disini?", tanya demi tanya berkumpul dalam otakku. SPANISH...SPANISH....SPANISH.... kenapa semua orang dalam ruangan ini bicara dalam bahasa Spanyol? padahal pasien mereka kali ini tidak mengusai bahasa Spanyol, pasien mereka kali ini sama sekali tidak paham apa yang terjadi, mereka pun sebenarnya mampu bicara dalam bahasa Inggris meskipun tidak lancar. Dan hanya kosakata PULMONARY EDEMA yang kupahami disela-sela obrolan bahas Spanyol yang dilakukan keenam orang yang berada dalam klinik. "Please, explain what happen with me?", pintaku kepada Gebi. Setelah menerima penjelasan dokter dalam bahasa Spanyol, Gebi mencoba membuatku mengerti dalam bahasa Inggris. Dia menyampaikan bahwa Dokter menyatakan saat ini aku menderita pulmonary edema dan aku diharuskan turun malam ini dan paling lambat esok pagi karena jika semakin lama aku berada di ketinggian seperti saat ini makan cairan dalam paru-paruku akan bertambah. Pulmonary edema yang kuderita sudah dalam level kritis maka aku harus turun hingga ke Mendoza. Berbagai penawaran serta alasan telah kuutarakan namun dokter dengan kukuh memintaku turun segera dan tidak boleh kembali naik hingga aku benar-benar sembuh karena pulmonary edema bersifat memory alias kumat jika aku mencoba naik dalam waktu dekat, bahkan jika aku tetap memaksa naik maka bisa jadi aku akan mati di ketinggian. Aku tertunduk diam tanpa meneteskan airmata, kemudian seorang dokter menghampiri tempat dudukku dan mulai berbicara, "You must save your life! It's more important than averything.Ok?". "You can comeback everytime you want but now you must go down", tambahnya. "And... until when the fluid stay in my lungs?", tanyaku. Dokter menjawab bahwa cairan ini akan segera hilang jika aku turun ke Mendoza, bukan tetap tinggal disini, bukan turun ke Confluencia maupun turun ke Puente del Inca saja. Dokter pun bilang bahwa aku tidak dapat mendaki gunung dengan ketinggian diatas 4000 mdpl setelah 2 tahun kemudian. Hah! yang benar saja? apa ku tidak salah dengar.
      Aku datang ke tenda makan bersama Gebi untuk makan serta menemui Ari dan ibnu. Kusampaikan apa yang dikatakan oleh dokter malam ini. "Dokter mengindikasikan adanya cairan di paru-paruku. Aku diminta turun malam ini juga, namun kata Gebi itu tidak memungkinkan maka aku diturunkan besok pagi rek", ungkapku pada Ari dan ibnu. "Gebi, can I stay in here? please... I wanna close with them, Please!", pintaku kepada Gebi untuk kesekian kali. Kusempat berdebat dengan Gebi bahwa aku masih ingin tinggal di Plaza de Mulas jika aku memang tidak diperbolehkan menambah ketinggian."I feel better and I don't feel dizzy", kucoba bertahan agar diperbolehkan untuk tinggal. "Tari, listen! You are sick. You have to go down. Save your life Tari! Do you understand?", Gebi berusaha membuatku mengerti namun aku masih tidak dapat menerima. "Now, Ari and Ibnu will help you to prepare your stuff. Put into your daypack and remember! just the important one because you duffle bag will be leave in here. Ok? Helicoopter will pick Tari up at 07.00 a.m.", penjelasan Gebi tertuju pada kami bertiga. Gebi beranjak pergi mengambilkanku makanan sedangkan aku meminta tolong kepada Ibnu untuk membuatkan Indomie untukku. Indomie telah matang dan ku mulai menyantapnya namun....... HUWEK! lagi-lagi aku muntah. Hari ini aku muntah tiga kali. "Ya Alloh.... ternyata aku memang sakit", gumamku sambil meneteskan air mata. Gebi datang sambil memberiku sepiring makanan yang entah apa namanya, seperti pizza raksasa, dengan warna pucat dan membuatku semakin tidak tertarik. Dia beranjak pergi keluar tenda makan lagi dan beberapa saat kemudian dia kembali untuk memintaku tidur di klinik karena tempat tidur disana lebih nyaman. Gebi memanduku ke klinik bersama Ari yang membawakan daypack.
     Begitu tiba di dalam klinik, tiga dokter mencoba memeriksaku kembali. Sama seperti sebelumnya, mereka mengecek Saturasi O2, denyut nadi serta keadaan paru-paruku. Karena aku menyatakan bahwa aku tidak pusing maka aku pun diminta untuk berjalan lurus dalam satu garis lantai dari satu dinding menuju ke dinding satunya. Setelah mendapatkan hasil pemeriksaan, mereka menyuntikkan cairan dexametason ke lengan kananku. Selang beberapa saat usai penyuntikkan, aku bersiap untuk tidur, mencoba meminum air dan ternyata aku mampu untuk minum. Aku merasa lebih baik usai mendapat suntikkan tadi. Kucoba memejamkan mata dan berdoa pada Alloh bahwa semua ini hanya mimpi buruk.

Rabu, 26 Desember 2012

Aklimatisasi dari Confluencia 3.432 mdpl menuju Plaza Francia 4.100 mdpl

      
      Seperti biasa, alarm handphone mengawali hari kami. Ari dan Ibnu berebut duluan keluar tenda untuk menuju toilet. Ku amati teras tenda sembari mataku berburu botol yang aku gunakan untuk menampung air pipisku semalam. Mashaalloh, belum pernah aku buang air kecil sebanyak ini. Dalam semalam kuterbangun tiga kali untuk pipis dua liter. Dalam sekali kesempatan, aku dapat pipis hingga 600 ml lebih. Meskipun sering terbangun namun tidurku semalam dapat dibilang nyenyak. Ari pun mengaku dapat tidur nyenyak juga namun tidak demikian dengan Ibnu yang sempat merasa pusing saat mulai istirahat. Pagi ini, alhamdulillah semua dalam keadaan sehat untuk melanjutkan kegiatan. Kami masih memiliki waktu satu setengah jam sebelum sarapan di tenda makan. Ganti baju sudah, packing perlengkapan untuk kebutuhan aklimatisasi juga sudah. Tepat pukul 08.00, Gebi memanggil kami untuk segera sarapan di tenda makan. Piring serta mangkuk di atas meja terisi penuh oleh roti keras, biskuit, cereal, dan beberapa minuman seperti teh serta susu. Usai makan, kami segera mengisi botol untuk diisi dengan air serta memacking makan siang yang diberikan oleh Gebi ke dalam daypack kami masing-masing.
      Perlengakapan sudah siap, perut sudah terisi maka kami sudah siap untuk menuju Plaza Frangia. Kami awali perjalan dengan doa kemudian melangkah dengan penuh semangat. Medan trekking berupa batu kerakal serta pasir menjadi semakin menantang untuk dilalui karena angin bertiup kencang di sepanjang perjalanan. Drink! Drink! more Drink! itulah yang lakukan saat kami berhenti semenit maupun dua menit dalam perjalanan karena hal ini akan membantu proses aklimatisasi. 
      Usai perjalanan 3,5 jam, akhirnya tim sampai di Plaza Francia. "Subhanalloh! kita bisa sampai disini dengan waktu singkat dan dalam keadaan sehat", ucapku bersyukur. Kami sangat senang karena dapat sampai tujuan dengan kondisi sehat. Ini merupakan titik awal kami untuk memecah kekhawatiran kami karena tempat ini adalah tempat tertinggi yang pernah kami capai. Sebelumnya, tempat tertinggi yang pernah aku serta Ari capai adalah puncak Mahameru 3.676 mdpl sedangkan Ibnu yaitu puncak Gn. Arjuna 3.339 mdpl.
      Saat berada di Plaza Francia, kami istirahat sejenak untuk memakan snack yang telah kami bawa dalam daypack dan mengagumi keindahan ciptaan Alloh. Luar biasa! puncak Mt. Aconcagua terlihat seperti lukisan yang tiada cela saat kubentuk jemariku menjadi bingkai gunung tersebut.

     Satu jam telah berlalu, kami pun beranjak turun kembali ke Confluencia. Saat perjalanan turun, kepalaku dan kepala Ari merasa pusing serta sakit, mata kami bertiga pun sakit karena tidak memakai kacamata. Kami sebenarnya membawa kacamata namun kacamata tersebut sangat tidak nyaman dan cenderung tidak bermanfaat saat dipakai. Ketidaknyamanan itulah yang membuat kami memilih untuk tidak memakai kacamata. Alhasil, sinar matahari yang sangat terik menyakiti mata kami. Saat tiba di Confluencia, kami semua mengeluh sakit mata dan pusing. Pusing yang kami rasakan bisa jadi percampuran antara mulainya gejala AMS serta sakit mata. Dari pengalaman ini, kami menggarisbawahi bahwa pemilihan kacamata yang tepat serta nyaman adalah hal penting, bukan berdasarkan merk produk tertentu.
      Setibanya kami di Confluencia, kami menuju tenda makan. Dimeja terdapat beberapa macam buah yang disiapkan untuk kami. "You have medical check up at 18.00. And now, you can take arrest", ucap Gebi kepada kami. 2 jam lagi kami akan melakukan tes medis maka kami harus antri 30 menit sebelumnya. Kepala kami masih pusing, kami pun sempat tertidur sejenak di tenda makan. Gebi datang memberitahu bahwa ini saatnya kami antri. Kami bertiga berjalan keluar menuju tenda klinik. Banyak pendaki yang melakukan cek medis dan setelah menunggu satu jam maka tiba giliran kami diperiksa. Alat dokter menyatakan bahwa saturasi O2 serta tekanan darah kami masih normal sehingga kami dapat melanjutkan pendakian esok pagi menuju Plaza de Mulas. Karena hasil pemeriksaan denyut nadi kami agak cepat maka Gebi menyarankan agar kami memperbanyak meminum air, minimal 5 liter dalam sehari.

      Usai pemeriksaan, kami menuju tenda makan untuk makan malam. Sajian berupa spageti hambar pun kami santap. Perutku lapar namun aku merasa agak mual sehingga aku hanya mampu menghabiskan sepertiga spageti yang disajikan di atas piring. Usai makan, kami pun melanjutkan aktivitas rutin sebelum tidur di tenda...... Ya, kami rakor (rapat koordinasi) melaporkan apa saja yang tim lakukan hari ini, komplit dengan evalusi serta briefing esok pagi. Setelah itu, kami pun bersiap untuk tidur termasuk menyiapkan 2 liter air untuk kami minum saat malam hari. 


Selasa, 25 Desember 2012

Trekking dari Puente del Inca 2.728 mdpl menuju Confluencia 3.432 mdpl

"25 Desember 2012, tim SAIAE telah tiba di Confluencia (3.432 mdpl) pukul 14.00 waktu Argentina. Keadaan tim dan peralatan tim  lengkap. Tim melakukan Briefing dan persiapan terlebih dahulu pada pukul 21.14 waktu setempat untuk aklimatisasi ke Plaza Francia esok hari.
Pergerakan tim besok dimulai pada pukul 09.00 waktu setempat. Waktu yang akan ditempuh tim untuk aklimatisasi dari Confluensia menuju Plaza Francia dan kembali lagi menuju Confluencia diperkirakan sekitar 7 jam perjalanan. Jarak ketinggian yang akan ditempuh tim yaitu sejauh 700 mdpl. Kemudian setelah kembali turun ke Confluencia, tim akan melakukan medical check up dengan tenggang waktu 2 jam setelah tim tiba di Confluencia. Setelah itu barulah tim beristrahat, makan dan mempersiapkan lagi keperluan untuk pendakian ke titik selanjutnya".(Pesan yang disampaikan oleh tim pendakian kepada tim Indonesia di Surabaya saat tiba di Confluencia)


.................................................................................................................
        Udara pagi yang sangat dingin menyapa melalui sela-sela dinding kayu kamar hostel Puente del Inca. Kubuka jendela kamar dan betapa teriknya sinar matahari (bukan mentari pagi lagi) membuat telapak tanganku dengan spontan memayungi mataku ketika melihat keluar jendela. Khas... sejak tiba kemarin sore, kami bertiga sudah mengetahui bahwa udara dingin disini belum tentu disertai suasana teduh. Debu-debu berterbangan tertiup angin saat pagi hari, menambah kesan tandus tempat ini.
       Tepat pukul 08.30 kami bertiga menuju meja makan, disana sudah ada Gebi yang menunggu untuk sarapan bersama. Sarapan sederhana.... ini merupakan culture bangsa barat yang terbiasa mengkonsumsi cereal maupun roti saat pagi hari. Menu diantarkan ke meja kami oleh seorang pelayan restoran hostel. Dia memberikan piring berisi keju serta daging babi kepada Ari dan aku serta Ibnu mendapatkan piring berisi keju saja. Hah?! Waduw!. . .kumemang request untuk tidak diberikan daging babi sama sekali tapi nggak kayak gini juga kali.......(acara sketsa TransTv mode:on). Dasar karena kumemang orang Jawa tulen, yang namanya keju asin maka cuma dapat kuhabiskan selembar. Selanjutnya kami perbanyak minum saat sarapan, mumpung di meja ruang tersebut terdapat air panas dan jus jeruk. Maklum, Gebi memberi instruksi sejak kemarin sore untuk minum air dari kran kamar mandi jika ingin minum. Karena air kran kamar mandi masih layak untuk diminum, kami pun mengisi botol minum dengan air tersebut. Usai sarapan, Ari dan Ibnu meminum vitamin C untuk menjaga stamina sedangkan aku memilih meminum kapsul vitamin dan penambah darah, Sangobion (sorry sebut merk dagang) karena aku hampir selesai ddatang bulan.
      Mulas-mulas, kombinasi antara kuda dan keledai, telah siap mengangkut barang kami yang tidak diperlukan selama perjalanan hari ini menuju Confluencia. Dengan membawa bodypack berikan beban 10 kg saja, kami beranjak dari Puente del Inca menuju pos perijinan Horocones dengan menggunakan mobil Aymara selama 20 menit perjalanan untuk check in pendakian. Di dalam pos, tim menunjukkan surat ijin pendakian yang sebelumnya telah diurus saat di mendoza.
      Trekking kami mulai dengan perjalanan sejauh 7,66 km melalui lembah, sungai dan deretan pegunungan Andes. Penggunaan peralatan yang tepat sangat mempengaruhi cara jalan kami misalnya penggunaan buff serta topi yang melindungi hidung serta wajah saat berjalan. Di awal perjalanan, kami merasa udara tidak begitu dingin disertai terik matahari yang sangat menyilaukan mata namun ditengah hingga akhir perjalanan udara mulai terasa dingin disertai angin yang membawa debu. meskipun demikian panorama yang indah mampu mengalihkan rasa lelah serta memberi semangat kepada kami. Saat perjalanan, kami sempat berpapasan dengan mulas dan penunggangnya. Mulas. . . sekuat kuda dan setabah keledai.
     Kami tiba  di Confluencia dalam waktu yang lumayan cepat, 2 jam 15 menit, tepatnya pada pukul 14.00. Confluencia merupakan salah satu titik dimana tim untuk pertama kalinya melakukan aklimatisasi sebelum melanjutkan perjalanan ke titik pendakian selanjutnya. Aklimatisasi menjadi proses dalam penyesuaian tubuh terhadap ketinggian. Dengan proses tersebut yang baik maka kemungkinan terkena AMS (acute mountain sickness) dapat diminimalisir. Semakin lama proses aklimatisasi yang dilakukan maka akan semakin baik pula bagi tubuh saat mencoba menambah ketinggian.
      Usai istirahat satu jam di tenda makan Aymara yang berada di Confluencia, kami beranjak menuju lokasi mendirikan tenda istirahat. Cuaca saat ini sangat dingin dan berangin sehingga lumayan memperssulit saat mendirikan tenda. Kami mendapat arahan Gebi dalam mendirikan tenda (tenda dengan 5 frame) seperti harus selalu menindih perlengkapan tenda seperti kantong flysheet dengan batu besar agar tidak terbang. Selanjutnya, setelah tenda berdiri maka kami harus menindih pasak dengan bebatuan agar tidak tercabut karena tarikan tenda akibat angin yang kencang.
      Hari mulai petang, kami melanjutkan aktivitas dengan makan malam, mengecek kondisi masing-masing tim, mengirim kabar kepada pihak di Indonesia serta KBRI di Buenos Aires, briefing kegiatan, dan istirahat.
   




       

Senin, 24 Desember 2012

Perjalanan dari Mendoza 700 mdpl menuju Puente del Inca 2.728 mdpl

"Tok! Tok! Tok! mbak Tari. . .", Suara Ibnu dibalik pintu kamar.
"Hemm...iya. Eh! lho?....bentar Ib!", jawabku sambil tersentak kaget melihat tirai jendela tertembus cahaya mentari. "Lhooo.... udah jam 8 to ini? Waduh!!! aku kok ndag denger suara alarm...... Kamu ma Ari udah siap ta Ib?", tanyaku di dalam kamar. "Belum mbak, ini mau ambil sepatu di dalam situ", jawab Ibnu sambil masuk ke dalam kamar.
      Saat ini sudah pukul 08.10 maka aku harus bersiap dalam waktu kurang dari satu jam. Mandi dengan cepat, sarapan dengan cepat, packing baju tidur serta sandal dengan cepat. . . . pokoknya serba cepat hingga aku masih punya waktu bergabung dengan Ari dan Ibnu untuk menunggu Gebi di loby hotel. Sambil menunggu Gebi, kami check out hotel serta menitipkan dua carrier berisi perlengkapan yang tidak perlu dibawa ke gunung. Selang 15 menit, Gebi datang lalu kami segera naik mobil menuju counter pembayaran ijin pendakian. 
     Untuk perijinan masing-masing personil dikenakan biaya 4.200 pesos atau sama dengan U$D 875. Berbeda dengan informasi yang diberikan sebelumnya bahwa pembayaran dilakukan dengan uang dolar namun saat ini kami harus membayar dengan uang pesos. Karena uang pesos yang kami pegang tidak cukup untuk membayar perijinan maka Gebi menawarkan  uang pesosnya untuk ditukar dengan dolar menggunakan nilai tukar resmi saat ini, yaitu U$D 1 sama dengan 4,8 pesos. Meskipun sedikit berat hati namun membutuhkan uang pesos maka kami menukarkan sejumlah uang dolar kepada Gebi. Perhitungan belum tepat, kali ini ternyata perlu uang pesos untuk perijinan sedangkan uang pesos yang kami punya adalah untuk keperluan selama pendakian kecuali untuk perijinan. Pembayaran telah selesai dilakukan, kami melanjutkan langkah ke kantor perijinan yang jaraknya tidak jauh dari sini.
      Kini kami telah berada di dalam ruangan yang lumayan luas dengan dinding-dinding yang tinggi. bersambung... (Tari mau ngerjain laporan alias LPJ dulu, baru nulis blognya dilanjut) ^.^