| Plaza de Mulas |
Jam tanganku menunjukkan pukul 05.30, "Ku ingin buang air kecil namun harus kemana?", bisikku lirih pada diri sendiri. Ya..... aku pipis di sebelah klinik medis tempatku menginap semalam. Lega rasanya sudah bisa pipis meskipun dinginnya angin serasa menggigit jemari kaki dan tangan. Segera ku kembali ke ranjang (bad tebal yang diletakkan di lantai klinik) lalu mengamati suasana ruangan yang masih sunyi senyap karena belum ada yang bangun. Gebi yang sengaja tidur di ruangan tersebut untuk menemani dan memantau kesehatanku pun hanya terbangun sejenak untuk menyapaku, "Are you Ok?". "Yes, I'm fine", jawabku. Ku ambil catatan keuangan dalam daypackku dan menghitung jumlah uang yang ada padaku. Tidak lama kemudian Ari disusul Ibnu datang ke klinik sebagaimana pesanku pada mereka semalam. Pagi ini kuserahkan untuk untuk keperluan selama pendakian serta sejumlah uang untuk keperluan mereka saat tiba di Mendoza. Kuputuskan untuk menyerahkan uang dalam bentuk pesos kepada Ibnu serta uang dalam dalam bentuk dolar kepada Ari. selanjutnya kami menunggu kedatangan helicoopter yang kabarnya akan mengevakuasiku pada pukul 07.00. Helicoopter tiba di Plaza de Mulas pada pukul 07.10 dan baru membawaku turun ke Horocones pada pukul 09.30. Untuk pertama dan terakhir kalinya pada hari itu, aku berfoto di basecamp Plaza de Mulas 4.389 mdpl dengan background Mt.Aconcagua 6.962 mdpl yang megah. Sesaat sebelum naik helicoopter, dokter mencoba memeriksa denyut nadi, saturasi O2, dan keadaan paru-paruku dengan meletakkan stetoscope di dada dan berpindah ke punggungku. Ku turut melihat hasil saturasi O2 yaitu 85% dengan denyut nadi yang lumayan cepat yaitu 110 per-menit. "Now, more fluid in your lungs", ungkapnya. Dokter menitipkan secarik kertas bertuliskan kalimat Spanyol untuk diberikan kepada dokter yang memeriksaku saat nanti di Mendoza. Gebi juga turut memberikan nomor handphone temannya kepadaku agar aku dapat meminta bantuan jika membutuhkan sesuatu.
Salam perpisahan kuberikan kepada Ari, Ibnu, Gebi serta seluruh orang yang sengaja berada disitu untuk mengantar kepergianku. "Ri, Ib, Aku yakin kalian bisa nyampek puncak dan ngibari bendera kita. Kalian harus belajar dari apa yang aku alami", pesanku pada Ari dan Ibnu. Lambaian tanganku dan tangan mereka semakin lama semakin tak terlihat seiring bentangan jarak terbang helicoopter yang semakin terbang menjauhi mereka. Ribuan rasa berkecamuk di hatiku. Marah, menyesal, khawatir, bingung...... semua membaur jadi satu namun ku tak dapat menangis. Saat perjalanan evakuasi, kusempatkan untuk mengambil video jalur pendakian serta bukit-bukit sekitar menggunakan handphone yang kubawa. Indah, terlihat begitu indah dan menjadi semakin indah saat aku melihat pemandangan pegunungan ini sekarang, disaat aku akan kehilangan suasana di gunung ini.
| Puente del Inca |
| Gudang/toko milik Aymara |
Usai beberapa menit menunggu kendaraan dari pihak Aymara (agent pendakian) untuk transfer dari pos perijinan Horocones akhirnya ku tiba di gudang/toko miliki Aymara di Puente del Inca. Gabriel, orang Aymara yang bertugas di Puente del Inca memberitahu bahwa aku akan dicarikan kendaraan untuk turun ke Mendoza pada pukul 12.00. Namun berjam-jam menunggu, kendaraan yang dimaksud belum juga ada. Ya, mungkin karena saat ini ada wanita asal Barcelona yang ingin menuju Mndoza juga. Wanita tersebut, christin, diharuskan turun dari Plaza de Mulas sehari sebelum aku turun karena dia menderita pulmonary edema dan celebral edema sekaligus. Gabriel mengkonfirmasi padaku bahwa Christin ingin menuju Mendoza bersamaku agar uang yang dibayarkan bisa lebih murah karena kami dapat patungan dalam menyewa mobil serta sopir, namun Christin masih harus menunggu barang dalam duffle bagnya datang 5 jam lagi dengan diangkut oleh mulas. Pada saat ini, perutku terasa sangat lapar lalu ku memilih berkeliling di sekitar gudang dan membeli satu es krim, 600 ml air putih, dan satu hotdog untuk mengisi perutku yang kosong sejak kemarin pagi.
Waktu telah menunjukkan pukul 17.00 maka melajulah mobil kami menuju Mendoza. Selama dalam mobil, ku putuskan untuk diam dan memejamkan mata karena Christin mengobrol dengan sopir tanpa henti-hentinya dengan menggunakan bahasa Spanyol yang tidak dapat kumengerti. Namun demikian, ku tetap tidak dapat tidur karena Christin berbicara dengan nada yang tinggi. Aeropuerto San Juan, kami sampai di bandara San Juan untuk menurunkan Christin terlebih dulu sebelum lanjut ke hotel. "Por favor, esta U$S 274 y ARS $ 5", ucapku pada sopir saat tiba di depan hotel NH Cordillera sambil menyodorkan uang 274 dolar dan 5 pesos. Karena kutak memiliki 1 dolar maka beri ganti 5 pesos pada sopir tersebut. "Si, gracias!", balasnya dengan reaksi sangat bahagia (kenapakalobayarmustipakedolargakbolehpakepesos_curiga.com). Sempat merasa kesal karena pihak Aymara sebelumnya tidak pernah menunjukkan daftar harga transportasi secara detail apabila terdapat pendaki yang tidak dapat melanjutkan ekspedisi bersama anggota tim yang lainnya. "It's Ok! paling ndang ku ada pengalaman yang bisa dibagi ke pendaki-pendaki selanjutnya yang berencana kemari"', ucapku dalam hati.
Begitu sampai di hotel, segera kulepas sepatu, cuci muka serta kaki serta meminjam stop contact pada resepsionis hotel untuk memasang charger pada Ipad dan handphone sebelum ku pergi mencari makan malam. Kususuri jalan dan masuk ke dalam Carrefour untuk membeli 6 liter air sekaligus mengingat jika membeli air di tempat lain maka harganya lebih mahal. Kulanjut berjalan hingga menemukan daftar harga makanan berupa pasta lalu aku masuk ke sebuah restoran untuk memesan satu porsi pasta/spageti dengan saus tomat untuk dibawa pulang ke hotel. Wow! begitu amat sangat lama sekali aku mendapatkan pastakuuuuu.... satu jam menunggu dan pastaku baru jadi. Ku melangkah kembali ke hotel dan mencoba memakan pasta tersebut di dalam kamar dan.... HUWEK!, ternyata aku sulit memasukkan makanan ke mulut karena masih mual, pahadal aku sangat lapar. :( Sama halnya denga percobaanku dalam memakan hotdog tadi siang di Puente del Inca, rasanya sangat sulit untuk menelan makanan. Meskipun sulit namun kupaksakan untuk menelan 8 sendok dan ku akhiri dengan meminum air putih. Selanjutnya kumatikan Ipad yang sempat ku pergunakan untuk conect internet serta mematikan semua cahaya lampu dalam kamar dan mencoba untuk tidur.
"Ya Alloh, ku ingin segera bersuci esok pagi karena ku telah usai datang bulan di gunungMU. Alhamdulillah untuk hari ini, meskipun ku tak tahu rencanaMu", ucapku dalam batin.
"Ya Alloh, ku ingin segera bersuci esok pagi karena ku telah usai datang bulan di gunungMU. Alhamdulillah untuk hari ini, meskipun ku tak tahu rencanaMu", ucapku dalam batin.