| Confluencia 3.432 mdpl |
Alarm
handphone berbunyi di dalam tenda untuk membangunkan aku, Ari, dan Ibnu. Pagi
ini merupakan pagi terakhir kami di Confluencia karena kami akan melanjutkan pendakian
menuju Plaza de Mulas. Usai membuka mata, ku segera menuju toilet untuk buang
air kecil sebelum banyak orang antri disana. Saat kembali ke tenda, kubertanya
kepada Ari dan Ibnu, “ Gimana kondisi kalian, apa masih pusing? Ada keluhan
sakit ndag?”. “enggak mbag, kita udah enggak pusing”, jawab Ari. “Kalo gitu
segera packing dan kita bongkar tenda terus lanjut ke tenda makan ya rek!”,
tambahku. Semua sudah memakai kostum jalan dan barang-barang serta tenda telah
terpacking dan siap untuk diangkut mulas. Guide,Gebi, datang dan bertanya,” is
all ready?”, “Yes”, jawab kami. “Ok, now you can put it close to the mulas and
then you have breakfast”, tambah Gebi.
Kami
memindahkan duffle bag ke dekat mulas kemudian menuju tenda makan. Kami sarapan
apa adanya yang ada di tenda makan dengan tambahan telur dadar yang dibuat oleh
juru masak,Lorena. Ari dan Ibnu lahap menyantap makanan namun entah mengapa
pagi ini aku sangat tidak berselera lebih dari biasanya. Saat ku mencoba
menelan makanan atau meminum air, ku pasti ingin muntah. “Aku biasanya pipis 2
liter dalam semalam karena ku banyak minum rek. Tapi semalam aku ndag bangun
sama sekali untuk pipis dan 2 liter air yang sudah kusiapkan pun masih utuh rek”,
ungkapku pada Ari dan Ibnu. Jam telah menunjukkan pukul 08.26 dan Gebi berseru bahwa
kami akan melanjutkan pendakian sekarang. Langkahku menuju tenda dapur terlebih dahulu untuk
berpamitan pada seluruh juru masak yang ada disitu, sekaligus memberikan
sedikit uang tips kepada Lorena.
Cuaca pagi ini sangat cerah dengan sedikit angin disepanjang perjalanan. Sejak awal perjalanan kumerasa ada yang tidak beres dengan tubuhku. Kuberjalan lambat hingga aku meminta Ari membawa laptop yang kupacking dalam daypackku. Bebanku sudah berkurang namun jalanku tetap lambat dan semakin melambat, berkali-kali langkahku terhenti karena merasa begitu lelah. "Ya Alloh, ada apa denganku? kemarin ndag kayak gini, kemarin bisa jalan cepat", gumamku cemas karena mulai merasa berat menyelaraskan langkah dengan anggota tim. "Are you Ok?", tanya Gebi. "Yes, I am Ok. Just....little bit tired", jawabku. "Mungkin gara-gara tadi cuma sarapan cereal kali ya?", tanyaku dalam hati. Terik matahari mengiringi langkah kami dalam menyusuri jalur pendakian yang berbatu,berpasir, dan sangat panjang ini.
Selama dua jam perjalanan, aku berjalan pelan
tidak seperti biasanya, bahkan selalu tertinggal jauh di belakang (urutan dari depan saat berjalan yaitu Gebi, Ari, aku, dan Ibnu). Akhirnya Gebi menerapkan metode berjalan lamban namun tetap saja aku ketinggalan. Hingga pada saat makan siang sekitar pukul 13.00, makanan yg kami dapat dari Aymara pun tidak mampu kuhabiskan. Usai makan siang, kami melanjutkan perjalanan. Saat perjalanan, aku sering berhenti sehingga Gebi pun sering bertanya tenntang keadaanku. Dia memintaku bercerita tentang mengapa kondisiku bisa seperti ini. Aku menceritakan bahwa aku sejak semalam hingga saat ini hanya mampu meminum setengah liter air dan
mungkin juga saat ini aku masuk angin karena aku merasa sangat mual namun tidak pusing. Kemudian Gebi menyuruhku untuk minum saat ini juga. Aku merasa mual namun Gebi tetap
menyuruh minum banyak hingga akhirnya aku muntah air. Setelah muntah, aku mampu memasukkan makanan serta air ke mulut namun sangat sedikit. Tim melanjutkan perjalanan kembali dan posisiku pun semakin jauh di belakang hingga aku sempat hilang dari pandangan mata mereka. Gebi,
Ari, Ibnu menunggu kedatanganku. Kudatang dengan perasaan dan sikap lemas yang dapat tim ketahui tanpa aku harus bilang. Pada akhirnya, bebanku pun di bagi menjadi tiga untuk di bawakan oleh Ibnu, Ari dan Gebi.
Namun tetap saja badanku merasa lemas. Aku berjalan sangat pelan dan sering berhenti untuk menarik nafas. Kebetulan ada teman Gebi yang menyalip dari belakang, Gebi pun meminta
tolong pada mereka untuk menemani Ari dan Ibnu menuju Plasa de mulas. Tim terpisah menjadi dua, Ari dan Ibnu berjalan bersama Julian (temannya Gebi) sedangkan aku di dampingi oleh gebi. Ari dan ibnu tiba di plasa de mulas pukul
19.30. Mereka pun menunggu kedatanganku di tenda makan sekaligus membangun tenda.
Setelah trekking 17 km dalam waktu hampir 13 jam, aku bersama Gebi tiba di plaza de Mulas pukul 21.00 dan langsung diperiksa oleh dokter di klinik Plaza de Mulas. Mereka mengecek denyut nadiku, saturasi O2 serta keadaan paru-paruku. Ya, aku hanya mampu bernafas pendek saat berjalan karena saturasi O2ku saat ini hanya 65% dengan denyut nadi yang cepat yaitu 120 per-menit, kumelihat dari alat periksa yang mereka pasangkan ke jari telunjukku. Yang benar-benar kabar buruk bagiku, saat ini dokter menyatakan bahwa paru-paruku terisi cairan, "There are any fluid in your lungs". Aku tidak mampu berkata-kata....... "lalu apa selanjutnya? apa aku tidak boleh menambah ketinggian? apa aku harus turun? apa aku hanya boleh disini?", tanya demi tanya berkumpul dalam otakku. SPANISH...SPANISH....SPANISH.... kenapa semua orang dalam ruangan ini bicara dalam bahasa Spanyol? padahal pasien mereka kali ini tidak mengusai bahasa Spanyol, pasien mereka kali ini sama sekali tidak paham apa yang terjadi, mereka pun sebenarnya mampu bicara dalam bahasa Inggris meskipun tidak lancar. Dan hanya kosakata PULMONARY EDEMA yang kupahami disela-sela obrolan bahas Spanyol yang dilakukan keenam orang yang berada dalam klinik. "Please, explain what happen with me?", pintaku kepada Gebi. Setelah menerima penjelasan dokter dalam bahasa Spanyol, Gebi mencoba membuatku mengerti dalam bahasa Inggris. Dia menyampaikan bahwa Dokter menyatakan saat ini aku menderita pulmonary edema dan aku diharuskan turun malam ini dan paling lambat esok pagi karena jika semakin lama aku berada di ketinggian seperti saat ini makan cairan dalam paru-paruku akan bertambah. Pulmonary edema yang kuderita sudah dalam level kritis maka aku harus turun hingga ke Mendoza. Berbagai penawaran serta alasan telah kuutarakan namun dokter dengan kukuh memintaku turun segera dan tidak boleh kembali naik hingga aku benar-benar sembuh karena pulmonary edema bersifat memory alias kumat jika aku mencoba naik dalam waktu dekat, bahkan jika aku tetap memaksa naik maka bisa jadi aku akan mati di ketinggian. Aku tertunduk diam tanpa meneteskan airmata, kemudian seorang dokter menghampiri tempat dudukku dan mulai berbicara, "You must save your life! It's more important than averything.Ok?". "You can comeback everytime you want but now you must go down", tambahnya. "And... until when the fluid stay in my lungs?", tanyaku. Dokter menjawab bahwa cairan ini akan segera hilang jika aku turun ke Mendoza, bukan tetap tinggal disini, bukan turun ke Confluencia maupun turun ke Puente del Inca saja. Dokter pun bilang bahwa aku tidak dapat mendaki gunung dengan ketinggian diatas 4000 mdpl setelah 2 tahun kemudian. Hah! yang benar saja? apa ku tidak salah dengar.
Aku datang ke tenda makan bersama Gebi untuk makan serta menemui Ari dan ibnu. Kusampaikan apa yang dikatakan oleh dokter malam ini. "Dokter mengindikasikan adanya cairan di paru-paruku. Aku diminta turun malam ini juga, namun kata Gebi itu tidak memungkinkan maka aku diturunkan besok pagi rek", ungkapku pada Ari dan ibnu. "Gebi, can I stay in here? please... I wanna close with them, Please!", pintaku kepada Gebi untuk kesekian kali. Kusempat berdebat dengan Gebi bahwa aku masih ingin tinggal di Plaza de Mulas jika aku memang tidak diperbolehkan menambah ketinggian."I feel better and I don't feel dizzy", kucoba bertahan agar diperbolehkan untuk tinggal. "Tari, listen! You are sick. You have to go down. Save your life Tari! Do you understand?", Gebi berusaha membuatku mengerti namun aku masih tidak dapat menerima. "Now, Ari and Ibnu will help you to prepare your stuff. Put into your daypack and remember! just the important one because you duffle bag will be leave in here. Ok? Helicoopter will pick Tari up at 07.00 a.m.", penjelasan Gebi tertuju pada kami bertiga. Gebi beranjak pergi mengambilkanku makanan sedangkan aku meminta tolong kepada Ibnu untuk membuatkan Indomie untukku. Indomie telah matang dan ku mulai menyantapnya namun....... HUWEK! lagi-lagi aku muntah. Hari ini aku muntah tiga kali. "Ya Alloh.... ternyata aku memang sakit", gumamku sambil meneteskan air mata. Gebi datang sambil memberiku sepiring makanan yang entah apa namanya, seperti pizza raksasa, dengan warna pucat dan membuatku semakin tidak tertarik. Dia beranjak pergi keluar tenda makan lagi dan beberapa saat kemudian dia kembali untuk memintaku tidur di klinik karena tempat tidur disana lebih nyaman. Gebi memanduku ke klinik bersama Ari yang membawakan daypack.
Aku datang ke tenda makan bersama Gebi untuk makan serta menemui Ari dan ibnu. Kusampaikan apa yang dikatakan oleh dokter malam ini. "Dokter mengindikasikan adanya cairan di paru-paruku. Aku diminta turun malam ini juga, namun kata Gebi itu tidak memungkinkan maka aku diturunkan besok pagi rek", ungkapku pada Ari dan ibnu. "Gebi, can I stay in here? please... I wanna close with them, Please!", pintaku kepada Gebi untuk kesekian kali. Kusempat berdebat dengan Gebi bahwa aku masih ingin tinggal di Plaza de Mulas jika aku memang tidak diperbolehkan menambah ketinggian."I feel better and I don't feel dizzy", kucoba bertahan agar diperbolehkan untuk tinggal. "Tari, listen! You are sick. You have to go down. Save your life Tari! Do you understand?", Gebi berusaha membuatku mengerti namun aku masih tidak dapat menerima. "Now, Ari and Ibnu will help you to prepare your stuff. Put into your daypack and remember! just the important one because you duffle bag will be leave in here. Ok? Helicoopter will pick Tari up at 07.00 a.m.", penjelasan Gebi tertuju pada kami bertiga. Gebi beranjak pergi mengambilkanku makanan sedangkan aku meminta tolong kepada Ibnu untuk membuatkan Indomie untukku. Indomie telah matang dan ku mulai menyantapnya namun....... HUWEK! lagi-lagi aku muntah. Hari ini aku muntah tiga kali. "Ya Alloh.... ternyata aku memang sakit", gumamku sambil meneteskan air mata. Gebi datang sambil memberiku sepiring makanan yang entah apa namanya, seperti pizza raksasa, dengan warna pucat dan membuatku semakin tidak tertarik. Dia beranjak pergi keluar tenda makan lagi dan beberapa saat kemudian dia kembali untuk memintaku tidur di klinik karena tempat tidur disana lebih nyaman. Gebi memanduku ke klinik bersama Ari yang membawakan daypack.
Begitu tiba di dalam klinik, tiga dokter mencoba memeriksaku kembali. Sama seperti sebelumnya, mereka mengecek Saturasi O2, denyut nadi serta keadaan paru-paruku. Karena aku menyatakan bahwa aku tidak pusing maka aku pun diminta untuk berjalan lurus dalam satu garis lantai dari satu dinding menuju ke dinding satunya. Setelah mendapatkan hasil pemeriksaan, mereka menyuntikkan cairan dexametason ke lengan kananku. Selang beberapa saat usai penyuntikkan, aku bersiap untuk tidur, mencoba meminum air dan ternyata aku mampu untuk minum. Aku merasa lebih baik usai mendapat suntikkan tadi. Kucoba memejamkan mata dan berdoa pada Alloh bahwa semua ini hanya mimpi buruk.