Seperti biasa, alarm handphone mengawali hari kami. Ari dan Ibnu berebut duluan keluar tenda untuk menuju toilet. Ku amati teras tenda sembari mataku berburu botol yang aku gunakan untuk menampung air pipisku semalam. Mashaalloh, belum pernah aku buang air kecil sebanyak ini. Dalam semalam kuterbangun tiga kali untuk pipis dua liter. Dalam sekali kesempatan, aku dapat pipis hingga 600 ml lebih. Meskipun sering terbangun namun tidurku semalam dapat dibilang nyenyak. Ari pun mengaku dapat tidur nyenyak juga namun tidak demikian dengan Ibnu yang sempat merasa pusing saat mulai istirahat. Pagi ini, alhamdulillah semua dalam keadaan sehat untuk melanjutkan kegiatan. Kami masih memiliki waktu satu setengah jam sebelum sarapan di tenda makan. Ganti baju sudah, packing perlengkapan untuk kebutuhan aklimatisasi juga sudah. Tepat pukul 08.00, Gebi memanggil kami untuk segera sarapan di tenda makan. Piring serta mangkuk di atas meja terisi penuh oleh roti keras, biskuit, cereal, dan beberapa minuman seperti teh serta susu. Usai makan, kami segera mengisi botol untuk diisi dengan air serta memacking makan siang yang diberikan oleh Gebi ke dalam daypack kami masing-masing.
Perlengakapan sudah siap, perut sudah terisi maka kami sudah siap untuk menuju Plaza Frangia. Kami awali perjalan dengan doa kemudian melangkah dengan penuh semangat. Medan trekking berupa batu kerakal serta pasir menjadi semakin menantang untuk dilalui karena angin bertiup kencang di sepanjang perjalanan. Drink! Drink! more Drink! itulah yang lakukan saat kami berhenti semenit maupun dua menit dalam perjalanan karena hal ini akan membantu proses aklimatisasi.
Usai perjalanan 3,5 jam, akhirnya tim sampai di Plaza Francia. "Subhanalloh! kita bisa sampai disini dengan waktu singkat dan dalam keadaan sehat", ucapku bersyukur. Kami sangat senang karena dapat sampai tujuan dengan kondisi sehat. Ini merupakan titik awal kami untuk memecah kekhawatiran kami karena tempat ini adalah tempat tertinggi yang pernah kami capai. Sebelumnya, tempat tertinggi yang pernah aku serta Ari capai adalah puncak Mahameru 3.676 mdpl sedangkan Ibnu yaitu puncak Gn. Arjuna 3.339 mdpl.
Saat berada di Plaza Francia, kami istirahat sejenak untuk memakan snack yang telah kami bawa dalam daypack dan mengagumi keindahan ciptaan Alloh. Luar biasa! puncak Mt. Aconcagua terlihat seperti lukisan yang tiada cela saat kubentuk jemariku menjadi bingkai gunung tersebut.
Satu jam telah berlalu, kami pun beranjak turun kembali ke Confluencia. Saat perjalanan turun, kepalaku dan kepala Ari merasa pusing serta sakit, mata kami bertiga pun sakit karena tidak memakai kacamata. Kami sebenarnya membawa kacamata namun kacamata tersebut sangat tidak nyaman dan cenderung tidak bermanfaat saat dipakai. Ketidaknyamanan itulah yang membuat kami memilih untuk tidak memakai kacamata. Alhasil, sinar matahari yang sangat terik menyakiti mata kami. Saat tiba di Confluencia, kami semua mengeluh sakit mata dan pusing. Pusing yang kami rasakan bisa jadi percampuran antara mulainya gejala AMS serta sakit mata. Dari pengalaman ini, kami menggarisbawahi bahwa pemilihan kacamata yang tepat serta nyaman adalah hal penting, bukan berdasarkan merk produk tertentu.
Setibanya kami di Confluencia, kami menuju tenda makan. Dimeja terdapat beberapa macam buah yang disiapkan untuk kami. "You have medical check up at 18.00. And now, you can take arrest", ucap Gebi kepada kami. 2 jam lagi kami akan melakukan tes medis maka kami harus antri 30 menit sebelumnya. Kepala kami masih pusing, kami pun sempat tertidur sejenak di tenda makan. Gebi datang memberitahu bahwa ini saatnya kami antri. Kami bertiga berjalan keluar menuju tenda klinik. Banyak pendaki yang melakukan cek medis dan setelah menunggu satu jam maka tiba giliran kami diperiksa. Alat dokter menyatakan bahwa saturasi O2 serta tekanan darah kami masih normal sehingga kami dapat melanjutkan pendakian esok pagi menuju Plaza de Mulas. Karena hasil pemeriksaan denyut nadi kami agak cepat maka Gebi menyarankan agar kami memperbanyak meminum air, minimal 5 liter dalam sehari.
Usai pemeriksaan, kami menuju tenda makan untuk makan malam. Sajian berupa spageti hambar pun kami santap. Perutku lapar namun aku merasa agak mual sehingga aku hanya mampu menghabiskan sepertiga spageti yang disajikan di atas piring. Usai makan, kami pun melanjutkan aktivitas rutin sebelum tidur di tenda...... Ya, kami rakor (rapat koordinasi) melaporkan apa saja yang tim lakukan hari ini, komplit dengan evalusi serta briefing esok pagi. Setelah itu, kami pun bersiap untuk tidur termasuk menyiapkan 2 liter air untuk kami minum saat malam hari.